Penilaian Autentik:Dari KTSP ke Kurikulum 2013, Pengalaman Sebagai Seoarang Guru, Fasilitator dan Guru Pendamping.

(Disampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika UPI Bandung, 27 Desember 2014)

A. Pendahuluan

Berbeda dengan perubahan kurikulum-kurikulum sebelumnya, perubahan dari Kurikulum 2006 menjadi Kurikulum 2013 mengundang banyak kontroversi. Perubahan kurikulum kali ini menyedot perhatian masyarakat luas, yang tidak hanya melibatkan masyarakat pendidikan, namun juga melibatkan masyarakat umum. Perdebatan pro-kontra terjadi  pada forum-forum ilmiah, media social, media cetak dan televisi. Penentangan yang paling keras disuarakan oleh kelompok guru yang bernaung pada organisasi guru Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).Organisasi ini melalui Sekjennya, Retno Listiarti, aktif mengkritisi pelaksanaan kurikulum 2013 dalam berbagai forum dan mengkampanyekan penghentian ke berbagai pihak . Kontroversi ini mencapai puncaknya ketika menteri pendidikan yang baru, Anies Baswedan, menghentikan sementara pelaksanaan kurikulum 2013 bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan 1 semester dengan mengeluarkan Permendikbud nomor 160 tahun 2014.

Pro – kontra muncul karena pergantian kurikulum dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 berbeda dengan pergantian kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2013 diberlakukan ketika kurikulum 2006 yang lebih dikenal dengan KTSP baru berjalan 7 tahun, belum ada evaluasi menyeluruh  dan belum semua guru tersentuh pelatihan. Pergantian kurikulum sebelumnya biasanya dilakukan setelah berjalan 10 tahun dan diawali dengan evaluasi. Pemberlakuan kurikulum 2013 dianggap tergesa-gesa dan instant, bahkan disebut setengah matang. Terlepas dari alasan-alasan bahwa perubahan kurikulum ini merupakan tuntutan perkembangan jaman yang harus segera dilakukan, namun dikalangan masyarakat terkesan bahwa mendikbud yang akan segera berakhir jabatannya hanya ingin membuat sebuah monumen, kurikulum baru!.

Ketergesaan pemberlakuan kurikulum 2013 tampak ketika tahun pelajaran baru akan dimulai. Payung hukum belum siap, regulasi-regulasi pendukung belum ada, buku belum selesai dicetak dan pelatihan guru belum dimulai. Sekolah-sekolah sasaran yang ditunjuk melaksanakan kurikulum 2013 mengimplementasikannya dengan meraba-raba, berdasarkan persepsi dan pemahaman yang terbatas. Sangat wajar ketika muncul pemahaman yang bias dalam pelaksanaanya sehingga memunculkan kesan pada sebagian guru, siswa, orangtua dan masyarakat bahwa kurikulum 2013 itu memberatkan, baik bagi guru maupun siswa, tidak sesuai dengan kondisi siswa di lapangan, merepotkan guru dan orangtua, sistem penilaiannya terlalu rumit sehingga menyita waktu guru untuk mengajar dan banyak lagi kesan negatif tentang kurikulum 2013.

Dari hasil wawancara saat pendampingan, rata-rata guru mengaku belum memahami kurikulum 2013.  Kesulitan yang paling banyak dikeluhkan oleh para guru adalah mengenai pemahaman  tentang  Kompetensi  Inti (KI)  dan Kompetensi Dasar (KD). Guru kesulitan bagaimana cara mengajarnya dan melakukan penilaian. Sebagian besar guru menganggap sistem penilaian kurikulum 2013 merepotkan.

Perubahan elemen standar isi  dan standar penilaian pada  Kurikulum  2013  membuat  guru yang selama ini menggunakan penilaian tradisional harus mengubah penilaiannya yaitu menjadi penilaian autentik berdasarkan tuntutan kurikulum. Guru yang semula terbiasa mengolah nilai hanya pada domain pengetahuan menjadi perlu untuk memperhatikan domain keterampilan serta sikap. Sesuai dengan pernyataan Mulyasa (2013: 135) implementasi kurikulum 2013 yang sarat dengan karakter dan kompetensi, hendaknya disertai dengan penilaian secara utuh,terus-menerus,  dan berkesinambungan, agar     dapat mengungkap berbagai aspek yang diperlukan dalam mengambil suatu keputusan.

B. Penilaian Autentik dari KTSP ke Kurikulum 2013

Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013 sebenarnya bukan merupakan barang baru. Pada implementasi KTSP dikenal penilaian berbasis kelas. Penilaian berbasis kelas merupakan bagian dari komponen penilaian di kelas yang mampu melibatkan siswa dan guru dalam memonitor hasil belajar siswa secara kontinu. Menurut Surapranata dan Hatta (2007: 18) berbagai jenis penilaian berbasis kelas antara lain; tes tertulis (paper and pencil test), pemberian tugas, penilaian kinerja (performance assessment), penilaian proyek, penilaian hasil kerja (product assesment), penilaian sikap (afektif), dan kumpulan kerja peserta didik(portofolio). Penilaian Autentik merupakan penilaian berbasis kelas pada kurikulum 2013. Jadi seharusnya penilaian autentik dalam kurikulum 2013 bukan sesuatu yang baru dan merepotkan karena sudah dilaksanakan dalam penilaian KTSP. Namundalam pelaksanaan KTSP, sebagian besar guru tidak melaksanakan penilaian berbasis kelas secara utuh. Dari tiga ruang lingkup aspek penilaian, penilaian sikap merupakan bagian yang selama ini paling jarang disentuh guru. Mungkin ada satu dua sekolah atau guru yang sudah melakukan penilaian terhadap aspek ini, tetapi sifatnya masih sporadis dan belum terencana dengan baik. Dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 maka melakukan penilaian sikap menjadi kewajiban bagi semua guru.

Pemberlakuan penilaian autentik dalam kurikulum 2013 menimbulkan kegamangan pada sebagian besar guru, khususnya untuk melaksanakan penilaian sikap dan keterampilan. Yang terbayang dalam benak sebagian besar guru setumpuk instrument harus dibawanya setiap hari. Di kelas pun guru akan disibukkan dengan pengamatan terhadap kegiatan siswa guna melengkapi tuntutan penilaian sikap yang terdiri dari sekian banyak aspek dan penilaian keterampilan. Sementara jumlah siswa setiap kelas yang harus diamati relatif banyak, rata-rata 40 orang perkelas dan jumlah kelas yang diajarpun cukup banyak untuk memenuhi tuntutan minimal 24 jam perminggu.

Kegamangan guru dalam melakukan penilaian autentik disebabkan keterbatasan pemahaman guru terhadap penilaian autentik. Hal ini mengakibatkan guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan penilaian autentik. Kesulitan guru tersebut terutama disebabkan oleh:

  1. Belum terbiasanya guru untuk melakukan analisis KD dan mengembangkan indikator.
  2. Belum terbiasanya guru melakukan perencanaan penilaian.
  3. Belum terbiasanya guru melakukan penilaian sikap (menyusun instrument hingga melakukan pengukuran, penilaian dan menyusun laporan hasil).
  4. Banyaknya aspek sikap yang dinilai.
  5. Banyaknya instrument penilaian sikap yang beredar di lapangan yang mungkin belum terstandar sehingga cenderung membingungkan guru.
  6. Pemahaman yang keliru terhadap penilaian sikap sehingga menimbulkan image “merepotkan”.
  7. Aturan penilaian yang terus berubah.

Keterbatasan pemahaman ini dapat mengakibatkan guru  melakukan kekeliruan. Guru bisa terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan, yang sebenarnya bukan menjadi tujuan utama pengembangan karakter dalam pembelajaran.Agar guru tidak terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan atau guru frustasi sehingga tidak melakukan penilaian yang seharusnya, dibutuhkan pemahaman dan strategi dalam penilaian, khususnya penilaian aspek sikap yang dianggap berat dan merepotkan guru, dapat dilaksanakan dan guru dapat tetap fokus mengelola pembelajaran.

 C. Penyusunan Instrumen Penilaian Sikap

Kurikulum 2013 sangat mementingkan pembentukan aspek sikap. Pembentukan sikap dilakukan terintegrasi pada KD dari KI 3 dan KI 4. Aspek sikap merupakan efek turunan dari pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Oleh karena itu penyusunan instrumen penilaian sikap tidak dapat dipisahkan dengan perancangan pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Guru harus melakukan analisis KD dari KI 3, mengembangkan indikatornya, menentukan materi ajar, model dan metode pembelajaran dan evaluasi. Langkah yang sama dilakukan KD dari KI 4. Setelah selesai baru dapat ditentukan indikator penilaian sikap, teknik penilaian, instrumen dan rubriknya.  Indikator dirumuskan berdasarkan indikator, materi, metode dan model pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Merumuskan indikator.

Indikator penilaian sikap dirumuskan setelah rancangan pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4 selesai disusun. Dimulai dengan menganalisis KD dari KI 3, mengembangkan indikator, merumuskan materi pembelajaran, menentukan model dan metode pembelajaran dan instrumen penilaian. Langkah yang sama dilakukan untuk KD dari KI 4. Dengan melihat indikator, materi, metode dan model pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4, indikator penilaian sikap dapat dirumuskan.

  1. Menentukan teknik penilaian.

Ada 4 pilihan teknik, yaitu observasi, Jurnal, penilaian diri, atau penilaian antara teman. Teknik observasi atau jurnal dapat dipilih untuk setiap kegiatan pembelajaran. Sementara itu untuk penilaian diri dapat dilakukan setiap satu semester sekali, sesuai Permendikbud nomor 104 tahun 2014.

  1. Memilih format dan skala yang sesuai.

Untuk penilaian dalam rentang waktu yang relative lama memungkinkan untuk membuat penilaian dengan skala 4.

D. Melaksanakan Penilaian Sikap

Setelah menyusun instrument, pelaksanaan penilaian sikap tidak kalah penting. Banyak guru terjebak dalam rutinitas pelaksanaan penilaian sikap yang berlebihan, sehingga lupa bahwa tujuan utama pembelajaran adalah pengembangan karakter siswa bukan penilaiannya. Untuk itu ada beberapa cara yang bisa ditempuh guru, diantaranya:

  1. Guru cukup membawa satu lembar kertas untuk mencatat perilaku siswa dalam pembelajaran.
  2. Pencatatan perilaku siswa dalam kegiatan pemeblajaran sehari-hari bisa menggunakan format jurnal.
  3. Pengamatan bisa difokuskan pada kelompok siswa ekstrim atas, yaitu kelompok siswa yang memiliki kecenderungan sangat baik dan kelompok ekstrim bawah, kelompok siswa yang memiliki kecenderungan kurang baik.
  4. Bagi sekolah yang memiliki fasilitas internet penilaian diri dan penilaian antar teman dapat memanfaatkan e-learning atau fasilitas kuis pada google drive.
  5. Hasil catatan harian direkap dan diolah menjadi skor/nilai tiap tema atau Kompetensi Dasar (KD).
  6. Indikator yang sulit diamati atau sulit terjadi jangan dimasukkan dalam butir instrumen, tetapi cukup dicatat saat terjadi kasus atau diintegrasikan dalam proses pembelajaran

Daftar Pustaka

http://pta.kemenag.go.id/index.php/frontend/news/index/202. Diakses tanggal 22 Desember 2014 jam 23.15

Mulyasa. 2013.  Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Rosda.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 81

                 tentang Pedoman Umum Pembelajaran.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 59 tahun 2014.tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 104tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: