Bina lingkungan, PPDB dan Pelajaran Korupsi

Oleh : Entis Sutisna*)

 

Istilah Bina lingkungan muncul pada pertengahan tahun 70-an, yaitu saat giat-giatnya industrialisasi di berbagai daerah Indonesia. Bina lingkungan merupakan kepedulian industri/pabrik/perusahaan yang memberikan kesempatan pada penduduk di sekitar pabrik/perusahaan itu berdiri untuk bekerja atau menjadi karyawan. Bina lingkungan merupakan suatu upaya agar masyarakat sekitar berdirinya perusahaan marasakan manfaat kehadiran perusahaan di lingkungannya.

Bina lingkungan pada pendidikan merupakan salah satu cara penerimaan peserta didik baru melalui jalur non akademis, biasanya melalui prestasi non akademik, domisil  atau siswa tidak mampu secara ekonomi.   Sebagai contoh, Pemerintah kota Bandung sejak tahun pelajaran 2004/2005 mengeluarkan SK Wali  Kota  Bandung  Nomor 421/kep.413-Huk/2004 yang memberikan kesempatan calon siswa tidak mampu untuk masuk melalui jalur non akademik.  Pada PPDB tahun 2012 keluar SK bersama Kemdikbud dan Kemenag yang mewajibkan sekolah memberikan daya tampungnya sebesar 20 % untuk siswa yang tidak mampu. Pemerintah kota Tangerang pada tahun pelajaran 2014/2015  telah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan alokasi 30% daya tampung setiap sekolah negeri pada calon siswa yang berdomisili di sekitar lingkungan sekolah

Pada perkembangannya, di kalangan pendidikan,  istilah Bina Lingkungan lebih dikenal sebagai cara masuk sekolah negeri melalui jalur belakang atau jalur ilegal, yaitu calon siswa diterima tidak melalui sistem yang berlaku, tapi biasanya melalui ketebelece atau surat sakti pejabat, jual beli bangku, melalui oknum kepala sekolah atau oknum guru. Bina lingkungan illegal tumbuh subur sejak era otonomi daerah. Pada otonomi daerah ini pendidikan  dari tingkat dasar sampai menengah dikelola oleh daerah kabupaten/kota. Pada saat masa penerimaan siswa baru, pada banyak daerah terjadi bagi-bagi jatah di kalangan orang-orang dekat kepala daerah, seperti tim sukses kepala daerah, anggota legislatif, pejabat, oknum wartawan dan oknum aktivis LSM.

Bina lingkungan illegal menjadi noktah hitam pendidikan, menambah buram wajah pendidikan kita. Praktik bina lingkungan illegal bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri dan nilai-nilai yang dikembangkan oleh pendidikan.   Praktik bina lingkungan ilegal ibarat memasukan kayu lapuk yang penuh rayap ke dalam tumpukan kayu-kayu bagus, yang bukannya membuat kayu itu menjadi bagus tapi kayu-kayu yang bagus menjadi rusak digerogoti oleh rayap-rayap dari kayu lapuk.

Tati Sopiati (2010) dalam penelitiannya terhadap siswa SMA favorit  di Bandung yang masuk melalui jalur bina lingkungan legal menyimpulkan bahwa siswa-siswa yang masuk melalui jalur bina lingkungan mengalami permasalahan penyesuaian diri dan akademis. Permasalahan penyesuaian diri ini di antaranya: (a) terlihat dari hasil prestasi belajar yang diberada di bawah SKBM (Standar Kompetensi Belajar Minimal) hampir untuk semua mata pelajaran; (b) perhatian siswa mudah teralih dan lambat dalam menangkap pelajaran terutama mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia; (c) siswa memperlihatkan kondisi yang tidak konsisten seperti terlihat over  confidence dan situasi lain siswa berubah menjadi tidak percaya diri serta cenderung menarik diri; (d) beberapa siswa memperlihatkan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman, melanggar tata tertib sekolah, motivasi belajar yang turun, dan membolos pada pelajaran tertentu; (e) munculnya rasa rendah diri karena ketidakseimbangan antara prestasi non-akademis dan  prestasi akademis; serta  (f) pada siswa bina lingkungan menunjukkan adanya sikap mengisolasi diri.

Penelitian Tati Sopiati menggambarkan kondisi siswa yang diterima melalui jalur bina lingkungan yang legal. Mayoritas dari siswa itu mengalami masalah dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Bagaimana dengan siswa yang diterima melalui jalur bina lingkungan ilegal?

Setiap orangtua pasti mengharapkan anaknya mendapatkan pendidikan yang baik dan bersekolah di sekolah yang bagus. Mereka berusaha dengan berbagai cara, seperti mengikuti bimbingan belajar pada lembaga bimbingan belajar, memanggil guru privat, melengkapi sarana belajar dan meminta jam belajar tambahan di sekolah. Namun  tidak sedikit orangtua mengambil jalan pintas, diterima di sekolah yang diinginkan melalui jalur bina lingkungan ilegal.

Disadari atau tidak oleh orangtua, oknum pejabat, guru dan  kepala sekolah yang terlibat memasukkan calon siswa melalui jalur bina lingkungan ilegal pada hakikatnya mereka sedang melakukan investasi yang buruk pada masa depan anak, yang tidak mustahil malah menghancurkan anak itu sendiri kelak. Praktik bina lingkungan ilegal bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran yang diajarkan oleh sekolah, yang menjadi tujuan pendidikan. Pada saat memasukan anak ke sekolah tujuan dengan jalur bina lingkungan ilegal, pada hakikatnya orangtua sedang mengajarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran, menafikan nilai-nilai kebenaran. Disadari atau tidak oleh orangtua dan sekolah, saat mereka melakukan praktik bina lingkungan ilegal sebenarnya mereka tengah mengajarkan pada siswa: ketidakjujuran, kebohongan, menghalalkan segala cara, menyuap, menyalahgunakan kekuasaan/jabatan, kolusi, nepotisme dan merampas hak orang lain.

Saat seorang anak calon siswa masuk dengan jalur bina lingkungan ilegal, saat itu anak sedang belajar ketidakjujuran.  Anak tahu dan merasa bahwa dia sebenarnya tidak memenuhi syarat di sekolah itu, baik secara nilai atau prosedur. Anak tahu bahwa telah terjadi kebohongan dalam proses diterimanya  dia di sekolah bersangkutan, anak sedang belajar kebohongan dan orangtua maupun sekolah telah mengajarkan kebohongan.   Orangtua dan sekolah sedang mengajarkan bahwa peraturan itu bisa dilanggar, bisa ditabrak dan diabaikan, yang penting punya kekuasaan, uang atau koneksi. Orangtua dan sekolah telah mengajarkan menghalalkan segala cara pada anak.

Ketika seorang anak calon siswa diterima di sekolah yang diinginkan dengan cara “jual beli bangku”, sesungguhnya orangtua dan sekolah sedang mengajarkan pada anak penyalahgunaan uang untuk meraih tujuan atau suap. Ketika seorang anak calon siswa diterima di sekolah yang diinginkan melalui surat sakti dari pejabat, sesungguhnya orangtua dan sekolah sedang mengajarkan bagaimana menyalah gunakan jabatan dalam mencapai tujuan. Ketika seorang anak calon siswa diterima di sekolah yang diinginkan dengan bantuan keluarga yang bekerja di sekolah atau Dinas Pendidikan, sesungguhnya anak sedang diajarkan nepotisme.  Ketika seorang anak calon siswa diterima disekolah tujuan karena bantuan dan kerjasama dengan oknum kepala sekolah, oknum guru, oknum pegawai Dinas Pendidikan, oknum wartawan atau oknum aktivis LSM, sesungguhnya orangtua telah mengajarkan perilaku kolusi.

Ketidak jujuran, kebohongan, menghalalkan segala cara, menyuap, penyalahgunaan kekuasaan/jabatan, kolusi dan nepotisme, semua merupakan unsur-unsur perilaku korup. Dengan kata lain praktik bina lingkungan ilegal merupakan pelajaran perilaku korup, pelajaran korupsi. Maka sangat wajar kalau korupsi sangat susah diberantas di negeri ini karena pendidikan memberikan andil dalam membentuk perilaku korup pada siswa.

Dalam praktik bina lingkungan ilegal  telah terjadi perampasan hak, yaitu anak-anak calon siswa yang secara nilai seharusnya diterima namun tersingkir dalam seleksi. Mereka tersingkir karena kuota sekolah berkurang dipakai untuk siswa melalui jalur bina lingkungan ilegal. Sebuah sekolah yang daya tampungnya 360 siswa dan yang dialokasikan untuk seleksi hanya 260 siswa, sementara sisanya diisi siswa dari jalur bina lingkuangan ilegal, maka ada 100 orang siswa yang dirampas haknya. Ada 100 orang siswa yang terdzalimi oleh praktik bina lingkungan ilegal. Disadari atau tidak, ketika seorang anak diterima melalui jalur bina lingkungan ilegal, anak telah diajarkan untuk merampas hak orang lain.

“Wallahu a’lam bish-showab”

 

*)Penulis seorang pendidik dan wakil ketua AGMI Banten

Siswa “Monster” Yang Berubah Cepat Lewat Diskusi

Pada tahun 1994, saya seorang mahasiswa dan calon guru, di Fakultas Pendidikan, di Brisbane, Australia. Ada kegiatan magang selama 1 bulan di sekolah negeri biasa, yang paduan SMP dan SMA. Kami harus masuk kelas, mengajar seperti guru biasa, dan guru kelas yang menjadi pembina kami duduk di belakang dan menilai cara mengajar kami.

Di ruang guru, saya dikabari akan dapat kelas 8-F. Banyak guru langsung teriak, “Ya Ampun! Kamu baru belajar, langsung dapat Luke?” Kata semua guru, Luke sudah dikenal di seluruh wilayah itu. Pernah ditangkap polisi berkali-kali, pernah coba membakar gedung sekolah (hanya merusak sedikit), mencuri mobil, mencuri barang dari rumah orang, menyerang guru berkali-kai, tidak disukai semua guru dan siswa, dan setiap hari, dalam setiap kelas, dia hampir pasti dikeluarkan dan dikirim ke ruangan kepala sekolah alias tidak pernah selesaikan satu kelas.

Saya sangat kaget. Para guru senior mulai menggambarkan sebuah monster raksasa, dengan tanduk tajam, mata merah yang melotot, dan api yang keluar dari mulutnya sampai semua orang bakalan takut berhadapan dengan dia. Tidak ada siswa yang lebih buruk di seluruh kota. Dan saya yang masih “awam” harus mengajar Luke? Mereka hanya bisa berharap saya akan selamat.

Luke istimewa sendiri karena punya buku catatan khusus. Setiap kelas, setiap guru harus berikan tanda tangan dua kali yang menjadi bukti dia telah masuk dan tinggalkan kelas itu. Tapi di akhir kelas, yang berikan tanda tangan lebih sering kepala sekolah, bukan guru, karena dia selalu dikirim ke kepala sekolah. Setelah ada bel untuk kelas baru, dia harus pergi ke kelas berikut, dengan harapan tidak akan kembali ke kepala sekolah lagi.

Mahasiswa lain bertanya apa saya siap menghadapi tantangan seperti itu? Siswa monster raksasa yang tidak ada duanya? Mau lakukan apa? Kalau mau jadi guru, harus coba dihadapi. Saya berusaha meyakinkan diri bisa berhadapan dengan monster seperti itu dan tetap mengajar sesuai rencana. Saya akan dapat nilai buruk kalau tidak bisa. Saya berangkat ke kelas, siap berhadapan dengan sang monster.

Saya panggil nama siswa satu per satu. Saya sebutkan namanya, “Luke?” Dan melihat kiri-kanan. Lalu saya dapat kejutan yang sangat besar. Ada anak yang angkat tangan. “Hadir Pak.” Saya melihat dia 10 detik tanpa bicara. “Kamu Luke?”
Dia jawab, “Iya. Kenapa?” Saya menatap dia terus, dan bingung mau katakan apa. Di depan saya ada salah satu anak yang paling manis di kelas. Seperti Cover Boy berusia 14 tahun. Rambut coklat yang lurus dan rapi, disisir ke samping, mata coklat yang besar dan kelihatan cerdas, tidak ada jerawat, kulit muka halus, dan harus dikatakan ganteng. Ini si monster rakasasa yang ditakuti semua guru? Apa tidak salah? Saya bingung.

Saya mulai mengajar saja. Lima menit kemudian, Luke menyerang anak lain di kelas. Ohh, begitu ternyata. Tapi sebelum dia menyerang anak lain, saya dengar dari jauh anak itu menghinakan Luke. Jadi dia bereaksi, bukan menyerang tanpa alasan. Saya tahan Luke dan suruh dia duduk kembali. Guru senior ada di situ dan diam, pena di tangan, sedang mencatat nilai dan komentar tentang saya. Dia sudah berpesan Luke sebaiknya dikirim ke ruang kepala sekolah kalau nakal. Tidak usah ditanggapi, keluarkan saja. Saya melihat ke guru senior. Dia menunggu saya suruh Luke pergi. Tapi saya hanya suruh dia duduk saja.

Saya jalan ke belakang kelas, dan tegor anak yang tadi menghinakan Luke. Saya tegaskan ke semua anak bahwa tidak ada yang boleh menghinakan orang lain di kelas saya. Lalu saya tanyakan semua tugas yang mesti dikerjakan oleh 3 anak itu yang sedang ketawa-ketawa melihat Luke kena masalah. Apa sudah selesai semua jawaban? Kenapa belum mulai? Saya berdiri di situ terus, dan pastikan 3 anak itu harus mulai kerja. Mereka jadi takut dan mulai fokus pada tugas, melupakan Luke. Luke sudah duduk dan kerjakan tugas juga.

Jadi saya dapat pelajaran. Luke bereaksi setelah dihinakan anak lain. Setelah dikaji lebih dalam, dan ditanyakan ke banyak guru lain, ternyata Luke selalu begitu. Anehnya, guru senior salahkan Luke karena menyerang secara fisik, tetapi tidak bertindak terhadap anak-anak yang menghinakan dia (yang menjadi pemicu perbuatan dia). Sore itu, saya lihat Luke berdiri di depan ruang guru. Saya tanya kenapa dia berada di situ. Katanya sedang menunggu guru, karena nakal di kelas.

Saya melihat dia lama, dan mulai berpikir. Di dalam kuliah, anak seperti ini dijelaskan kepada kami. Ada banyak cara di dalam buku teks psikologi anak untuk bantu dia. Tapi semuanya hanya “teori” dan pengertian saya pada psikologi anak masih baru, belum mahir. Apa bisa saya praktekkan langsung? Saya melihat dia, ingat pelajaran dari dosen psikologi anak, dan mulai bicara dengan dia.

Tujuan hidup dia apa? Mau jadi apa? Katanya mau jadi pilot. Apa bisa jadi pilot kalau pernah masuk penjara? Mungkin tidak, katanya. Saya bilang kalau dia terus berperilaku seperti sekarang, cepat atau lama akan masuk penjara, karena tidak dapat hasil apapun dari sekolah. Apa mau masuk penjara? Dia bilang tidak peduli. Tapi juga mau menjadi pilot. Jadi saya suruh dia pilih salah satunya yang lebih utama di hati. Dia pilih menjadi pilot.

Saya tanya apa dia suka nurut dengan orang lain. Katanya tidak suka. Sukanya independen dan mandiri. Saya jelaskan, anak-anak lain di kelas itu memang nakal. Sudah menjadi semacam “permainan” bagi mereka untuk menghinakan Luke, menunggu dia menyerang dan dikeluarkan dari kelas, lalu mereka ketawa-ketawa. Mereka mungkin bertaruh bisa lewat berapa menit sebelum bisa “membuat Luke menyerang”. Dan kemudian dia selalu dikeluarkan oleh semua guru. Anak itu sedang mempermainkan Luke. Ternyata, Luke belum sadar.

Penghinaan itu kepada dia ibaratnya “perintah menyerang” dan Luke selalu nurut dengan perintah itu. Saya bilang kalau dia mau mandiri dan kuat sendiri, saya setuju. Caranya adalah pada saat mereka menghinakan dia, abaikan saja dan tidak usah peduli pada pendapat mereka. Yang penting hanya pendapat dia tentang diri sendiri, bukan pendapat orang lain. Dia bilang tidak mungkin. Semua orang pasti marah kalau diejek begitu. Saya keluarkan dompet dan angkat 20 dolar (sektiar 200 ribu). Saya bilang “Coba kamu menghinakan saya, dengan kata-kata yang paling kasar di dunia, dan kalau saya jadi emosi sedikit saja, kamu menang uang ini.”

Dia bingung dan sedikit takut. Masa boleh menghinakan guru? Saya jamin dia tidak akan kena sanksi apapun, karena saya yang suruh. Dia mulai. Keluar semua kata-kata paling kasar dalam bahasa Inggris, mungkin seperti yang anda dengar dalam film barat. Saya diam dan senyum. Saya suruh dia tambahkan lagi, dan tambahkan lagi, sampai akhirnya dia kehabisan kata-kata kasar dan saya masih senyum saja. Dia bingung. Kok bisa? Saya jelaskan, menjadi marah adalah pilihan. Saya percaya bahwa saya orang yang baik dan bermanfaat, jadi kalau Luke mau bilang saya brengsek, saya tidak peduli pada pendapat dia. Dan saya tegaskan dia juga bisa begitu.

Saya ajak dia coba berdua dengan saya, dengan cara saling menghinakan. Tetapi dengan syarat kalau salah satu dari kami jadi marah, harus langsung berhenti. Saya mulai. Makin lama, makin kasar. Saya hinakan dia, dia hinakan saya. Dan saya tetap senyum. Dia ikut senyum dan setelah 5 menit kami kehabisan kata dan mulai ketawa berdua. Saya bilang, “Tuh, sudah terbukti. Kamu juga bisa menahan diri dan bisa memilih untuk tidak menjadi marah.”

Tapi dia bilang di dalam kelas tidak mungkin seperti itu, karena dia tidak akan tahan. Katanya harus bereaksi untuk membela diri. Saya bilang kalau ada yang menghinakan dia, serahkan kepada saya, dan saya akan hentikan perbuatan mereka, tegor mereka, dan melindungi Luke dari serangan verbal mereka. Dia kelihatan kaget. Katanya, mana mungkin ada guru yang mau “melindungi” dia? Saya bilang saya akan selalu melindungi dia karena dia siswa saya. Jadi saya harus melindungi dia dari semua gangguan. Dia diam, seolah-olah belum pernah dengar komentar seperti itu dari seorang guru. Saya bilang cukup dia percaya pada saya, diam di tempat, tidak menyerang, dan saya akan melindungi dia.

Besok di kelas, saya datang kepada dia dan berbisik. Apa masih ingat percapakan kami? Dia harus bisa kendalikan diri, dan percaya pada saya. Jangan mau nurut dengan “perintah menyerang” (penghinaan dari siswa lain). Dia bilang ingat dan siap. Lima menit kemudian, siswa di belakang menghinakan Luke. Saya langsung jalan ke belakang dan suruh dia minta maaf, lalu berdiri di situ dan melihat mereka kerja. Ke seluruh kelas saya mengatakan tidak ada yang boleh menghinakan siswa lain, dan kalau terjadi lagi, yang bicara seperti itu akan dikeluarkan dari kelas. (Dan Luke akan selalu aman, selama diam di kursi). Sepanjang kelas itu, tidak ada kejadian lagi.

Besok Luke berada di depan ruang guru lagi, nakal di kelas lagi. Saya bahas sikap dia dan bertanya bagaimana bisa menjadi pilot kalau gagal di sekolah atau masuk penjara. Kami diskusi satu jam. Saya bilang kalau mau jadi pilot, harus dapat nilai A terus. Dia bilang tidak mungkin dapat A karena selalu dapat D dan E di rapor. Saya ingat pelajaran dari dosen psikologi anak. Saya bilang saya akan kasih Luke nilai A pada saat itu juga di rapornya, dan sesudahnya, dia harus bisa menjaganya. Lalu saya bahwa dia ke kelas, ambil rapot dia, menulis A di situ di depan mata dia. Kalau dia berantem di kelas lagi, nilai turun ke A-, B+, tapi kalau dia kembali baik, naik lagi menjadi A.

Dia bingung. Belum pernah ada guru yang bersikap begitu kepada dia. Kebanyakan guru di sekolah itu memang sudah tua, lulus kuliah pendidikan tahun 1960an sampai 1980an, jadi tidak belajar psikologi anak dulu (dan malas belajar lagi). Saya paham sikap mereka, walaupun sudah ketinggalan zaman, tetapi sebagai guru profesional, mereka seharusnya mau belajar terus dan berubah juga.

Saya datangi semua guru Luke, dan bikin kesepakatan dengan mereka. Kalau Luke nakal di kelas, jangan kirim ke kepala sekolah. Datang, berbisik kepadanya dan mengatakan, “Kalau kamu tidak berbuat baik, kamu akan dikirim kepada Mr. Netto dan harus menjelaskan diri.” Kebanyakan guru siap mencoba, walaupun ragu-ragu akan berhasil, dan ada juga 1-2 guru tua yang bilang percuma karena dia tidak mungkin akan berubah.

Dalam 1 minggu itu, Luke tidak dikeluarkan dari kelas, tidak ke ruangan kepala sekolah, dan tidak disuruh ke ruang guru. Semua guru cukup berbisik kepada dia, dan setelah ditanyakan apa mau dikirim ke saya sebagai “siswa nakal”, dia kembali diam. Dan saya juga minta semua guru itu untuk memperhatikan anak lain yang menghinakan Luke dan hentikan tindakan seperti itu di kelas.

Dalam rapat guru minggu itu, kepala sekolah bertanya apakah Luke sakit, karena dia sudah seminggu tidak ketemu Luke. Padahal biasanya ketemu setiap jam, setiap hari. Sepuluh guru langsung tunjuk kepada saya dan suruh kepala sekolah bertanya ke saya. Kepala sekolah melihat saya, dan mengatakan “Apa yang kamu lakukan pada Luke?” (Dan mukanya kelihatan bingung! hahaha).

Saya jelaskan isi dari diskusi saya dengan Luke, dan teori psikologi anak yang sedang digunakan, dan bahwa guru lain akan kirim kepada saya kalau dia nakal, dan saya akan ajak diskusi lagi tentang masa depan dia, dan kemampuan dia untuk memilih yang terbaik dari dua pilihan (baik dan buruk). Kepala sekolah kaget. Lalu dia mengatakan, “Bagus sekali Gene, tolong diteruskan!” Saya juga kaget. Baru ketemu kepala sekolah selama 10 menit pas datang di awal magang, dan sekarang dapat pujian di depan 60 guru senior. Hehehe.

Dalam 2 minggu saya berada di sekolah, Luke sudah berubah total. Hanya karena diperhatikan dan ditawarkan bantuan untuk diskusi dan menghadapi masalah. Total waktu yang habis untuk diskusi dengan dia mungkin 15 jam saja. Masalah utama dia sebenarnya ada di rumah. Orang tuanya tidak pernah ingin punya anak. Bapak sering mabuk dan hajar dia. Ibu sering menghinakan dia dan bilang bahwa dia tidak diinginkan. Saat saya tanya kepada Luke apa orang tua akan bangga kalau dia dapat nilai A, dia bilang mereka tidak akan peduli. Saya mengatakan bahwa saya tidak berkuasa untuk mengubah orang tua dia. Tapi walaupun mereka tidak peduli, saya akan tetap merasa bangga sebagai gurunya, selama dia masih mau berusaha menjadi lebih baik. Dia senyum dan janji akan berusaha terus.

Saat saya harus kembali ke kampus, saya minta tolong pada satu guru lain yang masih muda untuk teruskan tugas saya dengan Luke, dan dia berjanji akan melakukan itu. Luke dapat kabar saya mau berangkat ke Indonesia untuk kuliah di UI. Dia minta alamat rumah saya dari gurunya, kirim surat, dan minta saya kirim layang-layang Indonesia kepadanya. Setelah saya pindah ke Indonesia tahun 1995, di zaman sebelum ada HP, Facebook, email dan internet, saya tidak pernah dapat kabar lagi tentang dia, jadi tidak tahu kalau apa dia menjadi pilot atau masuk penjara. Tapi saya masih ingat pada dia. Mungkin dia merasa dapat “pelajaran” dari saya, tapi saya juga dapat “pelajaran” yang luar biasa dari dia.

Teman-teman, seorang anak bisa berubah. Anak “monster” yang paling buruk di seluruh wilayah bisa berubah. Semuanya terserah kita yang dewasa, yang menjadi guru dan orang tua. Apa kita mau datang kepada mereka sebagai teman? Sebagai pembina? Sebagai pelindung? Sebagai orang bijaksana? Sebagai orang yang peduli? Kalau kita siap berusaha dengan sikap yang baik, ramah dan penuh kasih sayang, insya Allah anak yang “paling buruk” masih bisa berubah. Kita yang perlu datang kepada mereka untuk mengajak diskusi, bukan duduk di “tempat terhormat” sebagai guru dan suruh mereka datang kepada kita untuk minta maaf karena nakal.

Sekian saja. Maaf kisah ini harus panjang, biar lengkap dan jelas. Ini kisah nyata, tanpa ada unsur rekayasa di dalamnya insya Allah. Saya masih ingat dengan tajam sampai sekarang pengalaman saya ketemu dengan Luke. Semoga kisah ini bermanfaat bagi teman-teman para guru dan orang tua yang peduli pada masa depan anak Indonesia.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Penilaian Autentik:Dari KTSP ke Kurikulum 2013, Pengalaman Sebagai Seoarang Guru, Fasilitator dan Guru Pendamping.

A. Pendahuluan

Berbeda dengan perubahan kurikulum-kurikulum sebelumnya, perubahan dari Kurikulum 2006 menjadi Kurikulum 2013 mengundang banyak kontroversi. Perubahan kurikulum kali ini menyedot perhatian masyarakat luas, yang tidak hanya melibatkan masyarakat pendidikan, namun juga melibatkan masyarakat umum. Perdebatan pro-kontra terjadi  pada forum-forum ilmiah, media social, media cetak dan televisi. Penentangan yang paling keras disuarakan oleh kelompok guru yang bernaung pada organisasi guru Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).Organisasi ini melalui Sekjennya, Retno Listiarti, aktif mengkritisi pelaksanaan kurikulum 2013 dalam berbagai forum dan mengkampanyekan penghentian ke berbagai pihak . Kontroversi ini mencapai puncaknya ketika menteri pendidikan yang baru, Anies Baswedan, menghentikan sementara pelaksanaan kurikulum 2013 bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan 1 semester dengan mengeluarkan Permendikbud nomor 160 tahun 2014.

Pro – kontra muncul karena pergantian kurikulum dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 berbeda dengan pergantian kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2013 diberlakukan ketika kurikulum 2006 yang lebih dikenal dengan KTSP baru berjalan 7 tahun, belum ada evaluasi menyeluruh  dan belum semua guru tersentuh pelatihan. Pergantian kurikulum sebelumnya biasanya dilakukan setelah berjalan 10 tahun dan diawali dengan evaluasi. Pemberlakuan kurikulum 2013 dianggap tergesa-gesa dan instant, bahkan disebut setengah matang. Terlepas dari alasan-alasan bahwa perubahan kurikulum ini merupakan tuntutan perkembangan jaman yang harus segera dilakukan, namun dikalangan masyarakat terkesan bahwa mendikbud yang akan segera berakhir jabatannya hanya ingin membuat sebuah monumen, kurikulum baru!.

Ketergesaan pemberlakuan kurikulum 2013 tampak ketika tahun pelajaran baru akan dimulai. Payung hukum belum siap, regulasi-regulasi pendukung belum ada, buku belum selesai dicetak dan pelatihan guru belum dimulai. Sekolah-sekolah sasaran yang ditunjuk melaksanakan kurikulum 2013 mengimplementasikannya dengan meraba-raba, berdasarkan persepsi dan pemahaman yang terbatas. Sangat wajar ketika muncul pemahaman yang bias dalam pelaksanaanya sehingga memunculkan kesan pada sebagian guru, siswa, orangtua dan masyarakat bahwa kurikulum 2013 itu memberatkan, baik bagi guru maupun siswa, tidak sesuai dengan kondisi siswa di lapangan, merepotkan guru dan orangtua, sistem penilaiannya terlalu rumit sehingga menyita waktu guru untuk mengajar dan banyak lagi kesan negatif tentang kurikulum 2013.

Dari hasil wawancara saat pendampingan, rata-rata guru mengaku belum memahami kurikulum 2013.  Kesulitan yang paling banyak dikeluhkan oleh para guru adalah mengenai pemahaman  tentang  Kompetensi  Inti (KI)  dan Kompetensi Dasar (KD). Guru kesulitan bagaimana cara mengajarnya dan melakukan penilaian. Sebagian besar guru menganggap sistem penilaian kurikulum 2013 merepotkan.

Perubahan elemen standar isi  dan standar penilaian pada  Kurikulum  2013  membuat  guru yang selama ini menggunakan penilaian tradisional harus mengubah penilaiannya yaitu menjadi penilaian autentik berdasarkan tuntutan kurikulum. Guru yang semula terbiasa mengolah nilai hanya pada domain pengetahuan menjadi perlu untuk memperhatikan domain keterampilan serta sikap. Sesuai dengan pernyataan Mulyasa (2013: 135) implementasi kurikulum 2013 yang sarat dengan karakter dan kompetensi, hendaknya disertai dengan penilaian secara utuh,terus-menerus,  dan berkesinambungan, agar     dapat mengungkap berbagai aspek yang diperlukan dalam mengambil suatu keputusan.

B. Penilaian Autentik dari KTSP ke Kurikulum 2013

Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013 sebenarnya bukan merupakan barang baru. Pada implementasi KTSP dikenal penilaian berbasis kelas. Penilaian berbasis kelas merupakan bagian dari komponen penilaian di kelas yang mampu melibatkan siswa dan guru dalam memonitor hasil belajar siswa secara kontinu. Menurut Surapranata dan Hatta (2007: 18) berbagai jenis penilaian berbasis kelas antara lain; tes tertulis (paper and pencil test), pemberian tugas, penilaian kinerja (performance assessment), penilaian proyek, penilaian hasil kerja (product assesment), penilaian sikap (afektif), dan kumpulan kerja peserta didik(portofolio). Penilaian Autentik merupakan penilaian berbasis kelas pada kurikulum 2013. Jadi seharusnya penilaian autentik dalam kurikulum 2013 bukan sesuatu yang baru dan merepotkan karena sudah dilaksanakan dalam penilaian KTSP. Namundalam pelaksanaan KTSP, sebagian besar guru tidak melaksanakan penilaian berbasis kelas secara utuh. Dari tiga ruang lingkup aspek penilaian, penilaian sikap merupakan bagian yang selama ini paling jarang disentuh guru. Mungkin ada satu dua sekolah atau guru yang sudah melakukan penilaian terhadap aspek ini, tetapi sifatnya masih sporadis dan belum terencana dengan baik. Dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 maka melakukan penilaian sikap menjadi kewajiban bagi semua guru.

Pemberlakuan penilaian autentik dalam kurikulum 2013 menimbulkan kegamangan pada sebagian besar guru, khususnya untuk melaksanakan penilaian sikap dan keterampilan. Yang terbayang dalam benak sebagian besar guru setumpuk instrument harus dibawanya setiap hari. Di kelas pun guru akan disibukkan dengan pengamatan terhadap kegiatan siswa guna melengkapi tuntutan penilaian sikap yang terdiri dari sekian banyak aspek dan penilaian keterampilan. Sementara jumlah siswa setiap kelas yang harus diamati relatif banyak, rata-rata 40 orang perkelas dan jumlah kelas yang diajarpun cukup banyak untuk memenuhi tuntutan minimal 24 jam perminggu.

Kegamangan guru dalam melakukan penilaian autentik disebabkan keterbatasan pemahaman guru terhadap penilaian autentik. Hal ini mengakibatkan guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan penilaian autentik. Kesulitan guru tersebut terutama disebabkan oleh:

  1. Belum terbiasanya guru untuk melakukan analisis KD dan mengembangkan indikator.
  2. Belum terbiasanya guru melakukan perencanaan penilaian.
  3. Belum terbiasanya guru melakukan penilaian sikap (menyusun instrument hingga melakukan pengukuran, penilaian dan menyusun laporan hasil).
  4. Banyaknya aspek sikap yang dinilai.
  5. Banyaknya instrument penilaian sikap yang beredar di lapangan yang mungkin belum terstandar sehingga cenderung membingungkan guru.
  6. Pemahaman yang keliru terhadap penilaian sikap sehingga menimbulkan image “merepotkan”.
  7. Aturan penilaian yang terus berubah.

Keterbatasan pemahaman ini dapat mengakibatkan guru  melakukan kekeliruan. Guru bisa terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan, yang sebenarnya bukan menjadi tujuan utama pengembangan karakter dalam pembelajaran.Agar guru tidak terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan atau guru frustasi sehingga tidak melakukan penilaian yang seharusnya, dibutuhkan pemahaman dan strategi dalam penilaian, khususnya penilaian aspek sikap yang dianggap berat dan merepotkan guru, dapat dilaksanakan dan guru dapat tetap fokus mengelola pembelajaran.

 C. Penyusunan Instrumen Penilaian Sikap

Kurikulum 2013 sangat mementingkan pembentukan aspek sikap. Pembentukan sikap dilakukan terintegrasi pada KD dari KI 3 dan KI 4. Aspek sikap merupakan efek turunan dari pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Oleh karena itu penyusunan instrumen penilaian sikap tidak dapat dipisahkan dengan perancangan pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Guru harus melakukan analisis KD dari KI 3, mengembangkan indikatornya, menentukan materi ajar, model dan metode pembelajaran dan evaluasi. Langkah yang sama dilakukan KD dari KI 4. Setelah selesai baru dapat ditentukan indikator penilaian sikap, teknik penilaian, instrumen dan rubriknya.  Indikator dirumuskan berdasarkan indikator, materi, metode dan model pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Merumuskan indikator.

Indikator penilaian sikap dirumuskan setelah rancangan pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4 selesai disusun. Dimulai dengan menganalisis KD dari KI 3, mengembangkan indikator, merumuskan materi pembelajaran, menentukan model dan metode pembelajaran dan instrumen penilaian. Langkah yang sama dilakukan untuk KD dari KI 4. Dengan melihat indikator, materi, metode dan model pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4, indikator penilaian sikap dapat dirumuskan.

  1. Menentukan teknik penilaian.

Ada 4 pilihan teknik, yaitu observasi, Jurnal, penilaian diri, atau penilaian antara teman. Teknik observasi atau jurnal dapat dipilih untuk setiap kegiatan pembelajaran. Sementara itu untuk penilaian diri dapat dilakukan setiap satu semester sekali, sesuai Permendikbud nomor 104 tahun 2014.

  1. Memilih format dan skala yang sesuai.

Untuk penilaian dalam rentang waktu yang relative lama memungkinkan untuk membuat penilaian dengan skala 4.

D. Melaksanakan Penilaian Sikap

Setelah menyusun instrument, pelaksanaan penilaian sikap tidak kalah penting. Banyak guru terjebak dalam rutinitas pelaksanaan penilaian sikap yang berlebihan, sehingga lupa bahwa tujuan utama pembelajaran adalah pengembangan karakter siswa bukan penilaiannya. Untuk itu ada beberapa cara yang bisa ditempuh guru, diantaranya:

  1. Guru cukup membawa satu lembar kertas untuk mencatat perilaku siswa dalam pembelajaran.
  2. Pencatatan perilaku siswa dalam kegiatan pemeblajaran sehari-hari bisa menggunakan format jurnal.
  3. Pengamatan bisa difokuskan pada kelompok siswa ekstrim atas, yaitu kelompok siswa yang memiliki kecenderungan sangat baik dan kelompok ekstrim bawah, kelompok siswa yang memiliki kecenderungan kurang baik.
  4. Bagi sekolah yang memiliki fasilitas internet penilaian diri dan penilaian antar teman dapat memanfaatkan e-learning atau fasilitas kuis pada google drive.
  5. Hasil catatan harian direkap dan diolah menjadi skor/nilai tiap tema atau Kompetensi Dasar (KD).
  6. Indikator yang sulit diamati atau sulit terjadi jangan dimasukkan dalam butir instrumen, tetapi cukup dicatat saat terjadi kasus atau diintegrasikan dalam proses pembelajaran

Daftar Pustaka

http://pta.kemenag.go.id/index.php/frontend/news/index/202. Diakses tanggal 22 Desember 2014 jam 23.15

Mulyasa. 2013.  Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Rosda.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 81

                 tentang Pedoman Umum Pembelajaran.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 59 tahun 2014.tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 104tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Implementasi Kurikulum 2013

Kemdikbud sudah menetapkan 6,326 sekolahyang terdiri dari 2,598 jenjang SD, 1437 jenjang SMP, 1270 jenjang SMA dan 1021 SMK untuk menjadi sekolah sasaran Implementasi Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013/2014 . Disamping itu sekolah-sekolah yang tidak ditunjuk diberi kesempatan untuk mendaftarkan diri melaksanakan kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013/2014.

Untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 Kemdikbud telah menyusun jadwal pelatihan mulai dari Instruktur Nasional pada tanggal 30 juni s.d 3 Juli 2013, Pelatihan guru Inti yang akan dilaksanakan di 6 kota pada tanggal 4 s.d 8 juli 2013 dan pelatihan guru sasaran pada tanggal 9 s.d 13 Juli 2013 di LPMP masing-masing provinsi. Pelatihan dilaksanakan hanya untuk 3 mata pelajaran, yaitu matematika, sejarah dan bahasa indonesia.

Kalau dilihat dari jadwal pelaksanaan, terutama untuk guru sekolah sasaran, waktunya terlalu mepet dengan pelaksanaan tahun pelajaran. Pelatihan baru selesai 2 hari sebelum tahun pelajaran dimulai, padahal perubahan pada kurikulum 2013 cukup drastis, baik menyangkut standar isi, proses pembelajaran maupun penilaian. Apa lagi untuk jenjang SMA penjurusan, yang dalam kurikulum 2013 diganti dengan istilah peminatan dilaksanakan mulai kelas X, saat siswa baru mulai masuk belajar. Kondisi ini cukup meresahkan guru, terutama untuk guru yang akan mengajar di kelas X dan wakasek kurikulum. Mereka rata-rata belum tahu persis sosok utuh kurikulum 2013 sehingga mereka kebingungan mengenai apa yang harus dipersiapkan.

Banyak pengamat yang meragukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013. Mereka berpendapat bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 terlalu dipaksakan dan terburu-buru. Pemerintah mengulangi kesalahan yang sama dalam setiap perubahan kurikulu: guru sebagai instrumen utama dalam pelaksanaan kurikulum diabaikan! Akhirnya yang akan terjadi, seperti jargon iklan sebuah minuman, apapun kurikulumnya, cara mengajarnya tetap sama, ceramah dan mengejar target kurikulum.

Untuk membantu guru-guru dan Wakasek kurikulum dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, beberapa file di bawah ini bisa dipelajari:

1. Struktur dan kerangka kurikulum SMA

2. Pedoman peminatan

3. Buku pedoman guru matematika

4.Buku pedoman guru bahasa indonesia

5. Buku pedoman guru sejarah

6. Penilaian otentik

7. Pendekatan pembelajaran saintifik.

8. Struktur dan kerangka kurikulum SMK. 

Kabar Baik Bagi Guru, Pemerintah Revisi PP 74 Tahun 2008

Persoalan yang sempat menghangat dan meresahkan guru adalah kewajiban mengajar guru minimal 24 jam dan kepala sekolah minimal 6 jam. Kondisi ini menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi guru karena mereka harus berupaya memenuhi kewajiban 24 jam dan tidak jarang terjadi gesekan antar sesama guru. Bagi guru honor di sekolah negeri kondisi ini lebih memprihatinkan karena mereka harus rela diberhentikan demi memenuhi kewajiban 24 jam guru PNS, walaupun mereka telah mengajar bertahun-tahun dan kompetensi mereka lebih baik dari guru PNS.

Kepala sekolah memiliki kewajiban mengajar 6 jam. Ini cukup merepotkan, selain tugas-tugas kepala sekolah yang “bertumpuk” sehingga menyita waktu, tidak jarang untuk mata pelajaran yang diampu gurunya sudah berlebih. Akhirnya kebanyakan kepala sekolah membuat jam fiktif, mereka tidak mengajar tapi nama mereka tercantum dalam jadwal pelajaran.

Rencana pemerintah untuk merevisi PP 74 tahun 2008 cukup melegakan guru-guru yang kesulitan memenuhi 24 jam mengajar. Dalam draft revisi, kewajiban mengajar kepala sekolah berubah menjadi minimal 3 jam. Wali kelas, pembina dan beberapa jabatan lain selain Wakasek dan Kepala Lab/bengkel sekarang dihargai antara 6 – 12 jam. Untuk guru kewajiban mengajar akan ditinjau kembali. dalam PP 74 versi revisi tidak dicantumkan kewajiban minimal jam mengajar, tetapi akan diatur dalam permendiknas, sehingga lebih fleksibel dilakukan perubahan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Dibawah ini draft revisi PP 74, silahkan download dan beri masukan pada uji publik.

1. Draft Revisi PP 74 tahun 2008

2. Bahan Uji Publik Draft Revisi PP 74 tahun   2008

POS dan Kisi-kisi UN Tahun 2012

Jadwal ujian nasional atau UN 2012 telah diumumkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merilis, Rabu (30/11/2011). Untuk tingkat SMA sederajat akan digelar pada 16-19 April 2012. Sedangkan UN susulan 23-16 April 2012. Untuk jenjang SMP sederajat, UN akan dilaksanakan 23-26 April 2012, dan UN susulan akan berlangsung pada 30- 4 Mei 2012. Adapun untuk jenjang SD sederajat UN akan digelar pada 7-9 Mei 2012, dan UN susulan 14-16 Mei 2012. Pengumuman hasil UN tingkat SMA/MA dan SMK akan diumumkan pada 24 Mei 2012. Tingkat SMP/MTs, SMPLB dan SMALB pada 2 Juni 2012. Sedangkan untuk pengumuman kelulusan UN tingkat SD menjadi kewenangan setiap provinsi.

Selain itu BSNPpun telah mengeluarkan kisi-kisi dan POS untuk UN tahun 2012. Hampir tidak ada perubahan yang signifikan dalam POS tahun ini. Untuk mengetahui lebih jauh  silahkan download di web BSNP atau pada link di bawah ini:

Kisi-kisi UN 2012 untuk SMP, SMA, MA dan SMK serta sekolah luar biasa

POS UN 2012

Permendiknas no 59 th. 2011 tentang UN 2012

Pemanfaatan Analisis Konteks dalam Pembelajaran dan Penyusunan RKS

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan  oleh  pendidik  di  masing-masing  satuan  pendidikan  yang  berfungsi  sebagai pedoman  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  untuk  mencapai  tujuan  pendidikan tertentu. Tujuan tertentu  ini meliputi tujuan pendidikan nasional dengan kesesuaian   dan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, serta satuan pendidikan dan peserta didik.  Sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dimana sekolah hanya menerima dan melaksanakan kurikulum yang disusun dari pusat, tanpa memperhatikan kekhasan dan kondisi serta potensi daerah.

Untuk dapat menyusun KTSP dengan baik, satuan pendidikan harus memahami betul kondisi internal maupun eksternal sekolahnya. Selain itu satuan pendidikan harus mengetahui posisi sekolahnya dalam pencapaian standar nasional pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dalam penyusunan  KTSP  perlu  terlebih  dahulu  dilakukan  analisis  konteks  yang
mencakup analisis:

  1. Delapan  SNP  sebagai  acuan  dalam  penyusunan  KTSP  (Standar  Isi,  Standar Kompetensi  Lulusan,  Standar  Proses,  Standar  Penilaian,  Standar  Pengelolaan, Standar Ketenagaan, Standar, Standar Sarana Prasarana dan Standar Pembiayaan;
  2. Kondisi yang ada di  satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program;
  3. Kondisi lingkungan satuan pendidikan (eksternal) misalnya: komite sekolah, dewan pendidikan,  dinas  pendidikan,  asosiasi    profesi,  dunia  industri  dan  dunia  kerja, sumber daya alam dan sosial budaya;

Selain sebagai acuan dalam penyusunan KTSP, analisis konteks juga dimanfaatkan dalam pembelajaran, penilaian dan penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS) sebagai berikut:

SNP

KOMPONEN

HASIL ANALISIS

(RENCANA TINDAK LANJUT)

PEMANFAATAN

STANDAR ISI Kerangka Dasar Kurikulum Hasil Analisis Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Acuan melakukan review/revisi

Dokumen I

Struktur Kurikulum Analisis Struktur Kurikulum  Satdik
Beban Belajar Analisis Beban Belajar Satdik
Kalender Pendidikan Analisis jam/minggu efektif
Lamp. SI : Tujuan Mapel Analisis Ranah Kompetensi dan Substansi Materi Acuan melakukan review/revisi

Dokumen II

Lamp. SI : Ruang Lingkup Pemetaan SK-KD
Lamp. SI : SK-KD Penetapan KKM
SKL SKL Satuan Pendidikan Hasil Pemetaan pemenuhan SKL Satuan Pendidikan Penyusunan/revisi Visi, Misi, Tujuan Sekolah
SK Kelompok Mapel Hasil Pemetaan pemenuhan SK Kelompok Mapel Acuan dalam Penilaian Kelompok Mapel
SKL Mata Pelajaran Hasil Pemetaan pemenuhan SKL Mapel Acuan dalam Penilaian tiap Mapel
STANDAR PROSES Perencanaan Hasil analisis terhadap silabus dan RPP Acuan untuk review/revisi Silabus dan RPP
Pelaksanaan Hasil analisis persyaratan dan pelaksanaan pembelajaran Acuan pelaksanaan kegiatan pembelajaran (TM, PT dan KMTT)
Penilaian Hasil analisis penilaian terhadap hasil belajar peserta didik Acuan perbaikan proses pembelajaran
Pengawasan Hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran Acuan Program Pembinaan


STANDAR PENGELOLAAN Mendukung Pembelajaran dan Penilaian
STANDAR PENILAIAN Prinsip Penilaian Hasil analisis pemenuhan setiap komponen Acuan Penyusunan Rancangan Penilaian (UH, UTS, UAS dan US)
Teknik dan instrumen Penilaian
Mekanisme dan prosedur Penilaian
Penilaian oleh Pendidik Hasil analisis  Penilaian Pendidik Pelaporan hasil penilaian mapel, akhlak mulia dan kepribadian
Penilaian oleh Satdik Rancangan Pengujian Pelaporan hasil belajar tingkat satuan pendidikan
Penilaian oleh Pemerintah Salah satu kriteria kelulusan
SATDIK Mendukung Pembelajaran dan Penilaian
LINGK. EKSTERNAL Mendukung Pembelajaran dan Penilaian

Untuk lebih lengkap dalam pemanfaatan analisis konteks  bisa di download file berikut:

1. Pemanfaatan Analisis Konteks dalam Pembelajaran dan Penilaian

2. Pemanfaatan Analisis Konteks dalam Penyusunan RKS

 

Semoga bermanfaat.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.720 pengikut lainnya