Penilaian Autentik:Dari KTSP ke Kurikulum 2013, Pengalaman Sebagai Seoarang Guru, Fasilitator dan Guru Pendamping.

A. Pendahuluan

Berbeda dengan perubahan kurikulum-kurikulum sebelumnya, perubahan dari Kurikulum 2006 menjadi Kurikulum 2013 mengundang banyak kontroversi. Perubahan kurikulum kali ini menyedot perhatian masyarakat luas, yang tidak hanya melibatkan masyarakat pendidikan, namun juga melibatkan masyarakat umum. Perdebatan pro-kontra terjadi  pada forum-forum ilmiah, media social, media cetak dan televisi. Penentangan yang paling keras disuarakan oleh kelompok guru yang bernaung pada organisasi guru Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).Organisasi ini melalui Sekjennya, Retno Listiarti, aktif mengkritisi pelaksanaan kurikulum 2013 dalam berbagai forum dan mengkampanyekan penghentian ke berbagai pihak . Kontroversi ini mencapai puncaknya ketika menteri pendidikan yang baru, Anies Baswedan, menghentikan sementara pelaksanaan kurikulum 2013 bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan 1 semester dengan mengeluarkan Permendikbud nomor 160 tahun 2014.

Pro – kontra muncul karena pergantian kurikulum dari kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 berbeda dengan pergantian kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 2013 diberlakukan ketika kurikulum 2006 yang lebih dikenal dengan KTSP baru berjalan 7 tahun, belum ada evaluasi menyeluruh  dan belum semua guru tersentuh pelatihan. Pergantian kurikulum sebelumnya biasanya dilakukan setelah berjalan 10 tahun dan diawali dengan evaluasi. Pemberlakuan kurikulum 2013 dianggap tergesa-gesa dan instant, bahkan disebut setengah matang. Terlepas dari alasan-alasan bahwa perubahan kurikulum ini merupakan tuntutan perkembangan jaman yang harus segera dilakukan, namun dikalangan masyarakat terkesan bahwa mendikbud yang akan segera berakhir jabatannya hanya ingin membuat sebuah monumen, kurikulum baru!.

Ketergesaan pemberlakuan kurikulum 2013 tampak ketika tahun pelajaran baru akan dimulai. Payung hukum belum siap, regulasi-regulasi pendukung belum ada, buku belum selesai dicetak dan pelatihan guru belum dimulai. Sekolah-sekolah sasaran yang ditunjuk melaksanakan kurikulum 2013 mengimplementasikannya dengan meraba-raba, berdasarkan persepsi dan pemahaman yang terbatas. Sangat wajar ketika muncul pemahaman yang bias dalam pelaksanaanya sehingga memunculkan kesan pada sebagian guru, siswa, orangtua dan masyarakat bahwa kurikulum 2013 itu memberatkan, baik bagi guru maupun siswa, tidak sesuai dengan kondisi siswa di lapangan, merepotkan guru dan orangtua, sistem penilaiannya terlalu rumit sehingga menyita waktu guru untuk mengajar dan banyak lagi kesan negatif tentang kurikulum 2013.

Dari hasil wawancara saat pendampingan, rata-rata guru mengaku belum memahami kurikulum 2013.  Kesulitan yang paling banyak dikeluhkan oleh para guru adalah mengenai pemahaman  tentang  Kompetensi  Inti (KI)  dan Kompetensi Dasar (KD). Guru kesulitan bagaimana cara mengajarnya dan melakukan penilaian. Sebagian besar guru menganggap sistem penilaian kurikulum 2013 merepotkan.

Perubahan elemen standar isi  dan standar penilaian pada  Kurikulum  2013  membuat  guru yang selama ini menggunakan penilaian tradisional harus mengubah penilaiannya yaitu menjadi penilaian autentik berdasarkan tuntutan kurikulum. Guru yang semula terbiasa mengolah nilai hanya pada domain pengetahuan menjadi perlu untuk memperhatikan domain keterampilan serta sikap. Sesuai dengan pernyataan Mulyasa (2013: 135) implementasi kurikulum 2013 yang sarat dengan karakter dan kompetensi, hendaknya disertai dengan penilaian secara utuh,terus-menerus,  dan berkesinambungan, agar     dapat mengungkap berbagai aspek yang diperlukan dalam mengambil suatu keputusan.

B. Penilaian Autentik dari KTSP ke Kurikulum 2013

Penilaian Autentik dalam Kurikulum 2013 sebenarnya bukan merupakan barang baru. Pada implementasi KTSP dikenal penilaian berbasis kelas. Penilaian berbasis kelas merupakan bagian dari komponen penilaian di kelas yang mampu melibatkan siswa dan guru dalam memonitor hasil belajar siswa secara kontinu. Menurut Surapranata dan Hatta (2007: 18) berbagai jenis penilaian berbasis kelas antara lain; tes tertulis (paper and pencil test), pemberian tugas, penilaian kinerja (performance assessment), penilaian proyek, penilaian hasil kerja (product assesment), penilaian sikap (afektif), dan kumpulan kerja peserta didik(portofolio). Penilaian Autentik merupakan penilaian berbasis kelas pada kurikulum 2013. Jadi seharusnya penilaian autentik dalam kurikulum 2013 bukan sesuatu yang baru dan merepotkan karena sudah dilaksanakan dalam penilaian KTSP. Namundalam pelaksanaan KTSP, sebagian besar guru tidak melaksanakan penilaian berbasis kelas secara utuh. Dari tiga ruang lingkup aspek penilaian, penilaian sikap merupakan bagian yang selama ini paling jarang disentuh guru. Mungkin ada satu dua sekolah atau guru yang sudah melakukan penilaian terhadap aspek ini, tetapi sifatnya masih sporadis dan belum terencana dengan baik. Dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 maka melakukan penilaian sikap menjadi kewajiban bagi semua guru.

Pemberlakuan penilaian autentik dalam kurikulum 2013 menimbulkan kegamangan pada sebagian besar guru, khususnya untuk melaksanakan penilaian sikap dan keterampilan. Yang terbayang dalam benak sebagian besar guru setumpuk instrument harus dibawanya setiap hari. Di kelas pun guru akan disibukkan dengan pengamatan terhadap kegiatan siswa guna melengkapi tuntutan penilaian sikap yang terdiri dari sekian banyak aspek dan penilaian keterampilan. Sementara jumlah siswa setiap kelas yang harus diamati relatif banyak, rata-rata 40 orang perkelas dan jumlah kelas yang diajarpun cukup banyak untuk memenuhi tuntutan minimal 24 jam perminggu.

Kegamangan guru dalam melakukan penilaian autentik disebabkan keterbatasan pemahaman guru terhadap penilaian autentik. Hal ini mengakibatkan guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan penilaian autentik. Kesulitan guru tersebut terutama disebabkan oleh:

  1. Belum terbiasanya guru untuk melakukan analisis KD dan mengembangkan indikator.
  2. Belum terbiasanya guru melakukan perencanaan penilaian.
  3. Belum terbiasanya guru melakukan penilaian sikap (menyusun instrument hingga melakukan pengukuran, penilaian dan menyusun laporan hasil).
  4. Banyaknya aspek sikap yang dinilai.
  5. Banyaknya instrument penilaian sikap yang beredar di lapangan yang mungkin belum terstandar sehingga cenderung membingungkan guru.
  6. Pemahaman yang keliru terhadap penilaian sikap sehingga menimbulkan image “merepotkan”.
  7. Aturan penilaian yang terus berubah.

Keterbatasan pemahaman ini dapat mengakibatkan guru  melakukan kekeliruan. Guru bisa terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan, yang sebenarnya bukan menjadi tujuan utama pengembangan karakter dalam pembelajaran.Agar guru tidak terjebak dalam rutinitas penilaian yang berlebihan atau guru frustasi sehingga tidak melakukan penilaian yang seharusnya, dibutuhkan pemahaman dan strategi dalam penilaian, khususnya penilaian aspek sikap yang dianggap berat dan merepotkan guru, dapat dilaksanakan dan guru dapat tetap fokus mengelola pembelajaran.

 C. Penyusunan Instrumen Penilaian Sikap

Kurikulum 2013 sangat mementingkan pembentukan aspek sikap. Pembentukan sikap dilakukan terintegrasi pada KD dari KI 3 dan KI 4. Aspek sikap merupakan efek turunan dari pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Oleh karena itu penyusunan instrumen penilaian sikap tidak dapat dipisahkan dengan perancangan pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Guru harus melakukan analisis KD dari KI 3, mengembangkan indikatornya, menentukan materi ajar, model dan metode pembelajaran dan evaluasi. Langkah yang sama dilakukan KD dari KI 4. Setelah selesai baru dapat ditentukan indikator penilaian sikap, teknik penilaian, instrumen dan rubriknya.  Indikator dirumuskan berdasarkan indikator, materi, metode dan model pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Merumuskan indikator.

Indikator penilaian sikap dirumuskan setelah rancangan pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4 selesai disusun. Dimulai dengan menganalisis KD dari KI 3, mengembangkan indikator, merumuskan materi pembelajaran, menentukan model dan metode pembelajaran dan instrumen penilaian. Langkah yang sama dilakukan untuk KD dari KI 4. Dengan melihat indikator, materi, metode dan model pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4, indikator penilaian sikap dapat dirumuskan.

  1. Menentukan teknik penilaian.

Ada 4 pilihan teknik, yaitu observasi, Jurnal, penilaian diri, atau penilaian antara teman. Teknik observasi atau jurnal dapat dipilih untuk setiap kegiatan pembelajaran. Sementara itu untuk penilaian diri dapat dilakukan setiap satu semester sekali, sesuai Permendikbud nomor 104 tahun 2014.

  1. Memilih format dan skala yang sesuai.

Untuk penilaian dalam rentang waktu yang relative lama memungkinkan untuk membuat penilaian dengan skala 4.

D. Melaksanakan Penilaian Sikap

Setelah menyusun instrument, pelaksanaan penilaian sikap tidak kalah penting. Banyak guru terjebak dalam rutinitas pelaksanaan penilaian sikap yang berlebihan, sehingga lupa bahwa tujuan utama pembelajaran adalah pengembangan karakter siswa bukan penilaiannya. Untuk itu ada beberapa cara yang bisa ditempuh guru, diantaranya:

  1. Guru cukup membawa satu lembar kertas untuk mencatat perilaku siswa dalam pembelajaran.
  2. Pencatatan perilaku siswa dalam kegiatan pemeblajaran sehari-hari bisa menggunakan format jurnal.
  3. Pengamatan bisa difokuskan pada kelompok siswa ekstrim atas, yaitu kelompok siswa yang memiliki kecenderungan sangat baik dan kelompok ekstrim bawah, kelompok siswa yang memiliki kecenderungan kurang baik.
  4. Bagi sekolah yang memiliki fasilitas internet penilaian diri dan penilaian antar teman dapat memanfaatkan e-learning atau fasilitas kuis pada google drive.
  5. Hasil catatan harian direkap dan diolah menjadi skor/nilai tiap tema atau Kompetensi Dasar (KD).
  6. Indikator yang sulit diamati atau sulit terjadi jangan dimasukkan dalam butir instrumen, tetapi cukup dicatat saat terjadi kasus atau diintegrasikan dalam proses pembelajaran

Daftar Pustaka

http://pta.kemenag.go.id/index.php/frontend/news/index/202. Diakses tanggal 22 Desember 2014 jam 23.15

Mulyasa. 2013.  Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Rosda.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 81

                 tentang Pedoman Umum Pembelajaran.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 59 tahun 2014.tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 104tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Menengah.

Implementasi Kurikulum 2013

Kemdikbud sudah menetapkan 6,326 sekolahyang terdiri dari 2,598 jenjang SD, 1437 jenjang SMP, 1270 jenjang SMA dan 1021 SMK untuk menjadi sekolah sasaran Implementasi Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013/2014 . Disamping itu sekolah-sekolah yang tidak ditunjuk diberi kesempatan untuk mendaftarkan diri melaksanakan kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2013/2014.

Untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 Kemdikbud telah menyusun jadwal pelatihan mulai dari Instruktur Nasional pada tanggal 30 juni s.d 3 Juli 2013, Pelatihan guru Inti yang akan dilaksanakan di 6 kota pada tanggal 4 s.d 8 juli 2013 dan pelatihan guru sasaran pada tanggal 9 s.d 13 Juli 2013 di LPMP masing-masing provinsi. Pelatihan dilaksanakan hanya untuk 3 mata pelajaran, yaitu matematika, sejarah dan bahasa indonesia.

Kalau dilihat dari jadwal pelaksanaan, terutama untuk guru sekolah sasaran, waktunya terlalu mepet dengan pelaksanaan tahun pelajaran. Pelatihan baru selesai 2 hari sebelum tahun pelajaran dimulai, padahal perubahan pada kurikulum 2013 cukup drastis, baik menyangkut standar isi, proses pembelajaran maupun penilaian. Apa lagi untuk jenjang SMA penjurusan, yang dalam kurikulum 2013 diganti dengan istilah peminatan dilaksanakan mulai kelas X, saat siswa baru mulai masuk belajar. Kondisi ini cukup meresahkan guru, terutama untuk guru yang akan mengajar di kelas X dan wakasek kurikulum. Mereka rata-rata belum tahu persis sosok utuh kurikulum 2013 sehingga mereka kebingungan mengenai apa yang harus dipersiapkan.

Banyak pengamat yang meragukan keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013. Mereka berpendapat bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 terlalu dipaksakan dan terburu-buru. Pemerintah mengulangi kesalahan yang sama dalam setiap perubahan kurikulu: guru sebagai instrumen utama dalam pelaksanaan kurikulum diabaikan! Akhirnya yang akan terjadi, seperti jargon iklan sebuah minuman, apapun kurikulumnya, cara mengajarnya tetap sama, ceramah dan mengejar target kurikulum.

Untuk membantu guru-guru dan Wakasek kurikulum dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, beberapa file di bawah ini bisa dipelajari:

1. Struktur dan kerangka kurikulum SMA

2. Pedoman peminatan

3. Buku pedoman guru matematika

4.Buku pedoman guru bahasa indonesia

5. Buku pedoman guru sejarah

6. Penilaian otentik

7. Pendekatan pembelajaran saintifik.

8. Struktur dan kerangka kurikulum SMK. 

Kabar Baik Bagi Guru, Pemerintah Revisi PP 74 Tahun 2008

Persoalan yang sempat menghangat dan meresahkan guru adalah kewajiban mengajar guru minimal 24 jam dan kepala sekolah minimal 6 jam. Kondisi ini menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi guru karena mereka harus berupaya memenuhi kewajiban 24 jam dan tidak jarang terjadi gesekan antar sesama guru. Bagi guru honor di sekolah negeri kondisi ini lebih memprihatinkan karena mereka harus rela diberhentikan demi memenuhi kewajiban 24 jam guru PNS, walaupun mereka telah mengajar bertahun-tahun dan kompetensi mereka lebih baik dari guru PNS.

Kepala sekolah memiliki kewajiban mengajar 6 jam. Ini cukup merepotkan, selain tugas-tugas kepala sekolah yang “bertumpuk” sehingga menyita waktu, tidak jarang untuk mata pelajaran yang diampu gurunya sudah berlebih. Akhirnya kebanyakan kepala sekolah membuat jam fiktif, mereka tidak mengajar tapi nama mereka tercantum dalam jadwal pelajaran.

Rencana pemerintah untuk merevisi PP 74 tahun 2008 cukup melegakan guru-guru yang kesulitan memenuhi 24 jam mengajar. Dalam draft revisi, kewajiban mengajar kepala sekolah berubah menjadi minimal 3 jam. Wali kelas, pembina dan beberapa jabatan lain selain Wakasek dan Kepala Lab/bengkel sekarang dihargai antara 6 – 12 jam. Untuk guru kewajiban mengajar akan ditinjau kembali. dalam PP 74 versi revisi tidak dicantumkan kewajiban minimal jam mengajar, tetapi akan diatur dalam permendiknas, sehingga lebih fleksibel dilakukan perubahan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Dibawah ini draft revisi PP 74, silahkan download dan beri masukan pada uji publik.

1. Draft Revisi PP 74 tahun 2008

2. Bahan Uji Publik Draft Revisi PP 74 tahun   2008

POS dan Kisi-kisi UN Tahun 2012

Jadwal ujian nasional atau UN 2012 telah diumumkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merilis, Rabu (30/11/2011). Untuk tingkat SMA sederajat akan digelar pada 16-19 April 2012. Sedangkan UN susulan 23-16 April 2012. Untuk jenjang SMP sederajat, UN akan dilaksanakan 23-26 April 2012, dan UN susulan akan berlangsung pada 30- 4 Mei 2012. Adapun untuk jenjang SD sederajat UN akan digelar pada 7-9 Mei 2012, dan UN susulan 14-16 Mei 2012. Pengumuman hasil UN tingkat SMA/MA dan SMK akan diumumkan pada 24 Mei 2012. Tingkat SMP/MTs, SMPLB dan SMALB pada 2 Juni 2012. Sedangkan untuk pengumuman kelulusan UN tingkat SD menjadi kewenangan setiap provinsi.

Selain itu BSNPpun telah mengeluarkan kisi-kisi dan POS untuk UN tahun 2012. Hampir tidak ada perubahan yang signifikan dalam POS tahun ini. Untuk mengetahui lebih jauh  silahkan download di web BSNP atau pada link di bawah ini:

Kisi-kisi UN 2012 untuk SMP, SMA, MA dan SMK serta sekolah luar biasa

POS UN 2012

Permendiknas no 59 th. 2011 tentang UN 2012

Pemanfaatan Analisis Konteks dalam Pembelajaran dan Penyusunan RKS

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan  oleh  pendidik  di  masing-masing  satuan  pendidikan  yang  berfungsi  sebagai pedoman  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  untuk  mencapai  tujuan  pendidikan tertentu. Tujuan tertentu  ini meliputi tujuan pendidikan nasional dengan kesesuaian   dan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, serta satuan pendidikan dan peserta didik.  Sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dimana sekolah hanya menerima dan melaksanakan kurikulum yang disusun dari pusat, tanpa memperhatikan kekhasan dan kondisi serta potensi daerah.

Untuk dapat menyusun KTSP dengan baik, satuan pendidikan harus memahami betul kondisi internal maupun eksternal sekolahnya. Selain itu satuan pendidikan harus mengetahui posisi sekolahnya dalam pencapaian standar nasional pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dalam penyusunan  KTSP  perlu  terlebih  dahulu  dilakukan  analisis  konteks  yang
mencakup analisis:

  1. Delapan  SNP  sebagai  acuan  dalam  penyusunan  KTSP  (Standar  Isi,  Standar Kompetensi  Lulusan,  Standar  Proses,  Standar  Penilaian,  Standar  Pengelolaan, Standar Ketenagaan, Standar, Standar Sarana Prasarana dan Standar Pembiayaan;
  2. Kondisi yang ada di  satuan pendidikan yang meliputi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, biaya, dan program-program;
  3. Kondisi lingkungan satuan pendidikan (eksternal) misalnya: komite sekolah, dewan pendidikan,  dinas  pendidikan,  asosiasi    profesi,  dunia  industri  dan  dunia  kerja, sumber daya alam dan sosial budaya;

Selain sebagai acuan dalam penyusunan KTSP, analisis konteks juga dimanfaatkan dalam pembelajaran, penilaian dan penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS) sebagai berikut:

SNP

KOMPONEN

HASIL ANALISIS

(RENCANA TINDAK LANJUT)

PEMANFAATAN

STANDAR ISI Kerangka Dasar Kurikulum Hasil Analisis Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan Kurikulum Acuan melakukan review/revisi

Dokumen I

Struktur Kurikulum Analisis Struktur Kurikulum  Satdik
Beban Belajar Analisis Beban Belajar Satdik
Kalender Pendidikan Analisis jam/minggu efektif
Lamp. SI : Tujuan Mapel Analisis Ranah Kompetensi dan Substansi Materi Acuan melakukan review/revisi

Dokumen II

Lamp. SI : Ruang Lingkup Pemetaan SK-KD
Lamp. SI : SK-KD Penetapan KKM
SKL SKL Satuan Pendidikan Hasil Pemetaan pemenuhan SKL Satuan Pendidikan Penyusunan/revisi Visi, Misi, Tujuan Sekolah
SK Kelompok Mapel Hasil Pemetaan pemenuhan SK Kelompok Mapel Acuan dalam Penilaian Kelompok Mapel
SKL Mata Pelajaran Hasil Pemetaan pemenuhan SKL Mapel Acuan dalam Penilaian tiap Mapel
STANDAR PROSES Perencanaan Hasil analisis terhadap silabus dan RPP Acuan untuk review/revisi Silabus dan RPP
Pelaksanaan Hasil analisis persyaratan dan pelaksanaan pembelajaran Acuan pelaksanaan kegiatan pembelajaran (TM, PT dan KMTT)
Penilaian Hasil analisis penilaian terhadap hasil belajar peserta didik Acuan perbaikan proses pembelajaran
Pengawasan Hasil analisis keterlaksanaan pembelajaran Acuan Program Pembinaan


STANDAR PENGELOLAAN Mendukung Pembelajaran dan Penilaian
STANDAR PENILAIAN Prinsip Penilaian Hasil analisis pemenuhan setiap komponen Acuan Penyusunan Rancangan Penilaian (UH, UTS, UAS dan US)
Teknik dan instrumen Penilaian
Mekanisme dan prosedur Penilaian
Penilaian oleh Pendidik Hasil analisis  Penilaian Pendidik Pelaporan hasil penilaian mapel, akhlak mulia dan kepribadian
Penilaian oleh Satdik Rancangan Pengujian Pelaporan hasil belajar tingkat satuan pendidikan
Penilaian oleh Pemerintah - Salah satu kriteria kelulusan
SATDIK Mendukung Pembelajaran dan Penilaian
LINGK. EKSTERNAL Mendukung Pembelajaran dan Penilaian

Untuk lebih lengkap dalam pemanfaatan analisis konteks  bisa di download file berikut:

1. Pemanfaatan Analisis Konteks dalam Pembelajaran dan Penilaian

2. Pemanfaatan Analisis Konteks dalam Penyusunan RKS

 

Semoga bermanfaat.

Bedah SKL MGMP Matematika SMA Kota Tangerang

Untuk mempersiapkan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2010/2011, MGMP Matematika SMA Kota Tangerang bekerja sama dengan Penerbit Erlangga dan Telkomsel melaksanakan kegiatan Bedah SKL dan Peningkatan Kompetensi Guru Matematika. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 16 dan 23 Februari 2011 di Aula SMA Yuppentek I kota Tangerang.

Untuk kegiatan Bedah SKL UN, bekerja sama dengan penerbit Erlangga, mendatangkan nara sumber Dra. Kuntarti, guru SMAN 64 Jakarta, yang menjadi salah seorang anggota tim penyusun soal UN dan Drs. Husein Tampomas, guru SMAN 5 Bekasi, yang merupakan salah seorang penulis buku enerbit Erlangga. Pada kegiatan tersebut dibedah SKL yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional menjadi indikator-indikator soal yang mungkin muncul dalam UN 2011. Hasil dari kegiatan tersebut berupa kisi-kisi TO UN, yang merupakan prediksi UN 2011 dan kumpulan soal prediksi UN 2011. Untuk mempersiapkan UN di sekolah silahkan didownload.

Pada kegiatan Peningkatan Kompetensi Profesional Guru Matematika, bekerjasama dengan Telkomsel, menghadirkan nara sumber DR. Teddy Setiawan, Dosen ITB. Dalam kegiatan tersebut dibahas miskonsepsi yang sering terjadi dalam pembelajaran matematika SMA oleh guru. Selain itu Dr. Teddy juga mengajarkan trik-trik mengerjakan matematika dan membagikan buku persiapan olimpiade serta CD Virtual Book SKL UN 2011.

Hasil Kegiatan bisa didownload di sini:

1. Prediksi Soal UN 2011 Matematika IPA

2. Prediksi Soal UN 2011 Matematika IPS

3. Prediksi Kisi-kisi UN Matematika IPA 2011

4. Soal US Matematika IPS

5. Soa US Matematika IPA

POS UN Tahun 2010/2011

Sebagai tindak lanjut terbitnya Permendiknas nomor 45 tahun 2010 tentang kriteria kelulusan UN dan Permendikan nomor 46 tahun 2010  tentang Pelaksanaan UN tahun 2010/2011, pemerintah melalui BSNP telah mengeluarkan Prosedure Standar Operasinal (POS) UN tahun 2010/2011 melalui Peraturan BSNP Nomor 0148/SK-POS/BSNP/I/2011.

Jadwal pelaksanaan ujian nasional adalah sebagai beriku:Untuk lebih lengkap silahkan download POS UN di link berikut:

POS UN Tahun 2010/2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.720 pengikut lainnya.