Penerapan Sistem SKS di SMP dan SMA

  1. Pendahuluan.

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pada Pasal 12 ayat 1 butir
(b) menyatakan : “Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya”.
Selanjutnya pada butir (f) menyatakan bahwa “Peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan”.  Pasal-pasal tersebut disusun sebagai jawaban atas keragaman peserta didik, baik kemampuan, minat maupun bakat. Pasal-pasal tersebutpun menggambarkan kesadaran para penyusun undang-undang dan Stakeholders akan keragaman yang ada pada peserta didik.

Keragaman peserta didik membutuhkan pelayanan yang berbeda-beda pada setiap individu, sehingga setiap peserta didik dapat menyelesaikan pendidikannya sesuai kecepatan belajar
masing-masing dan mengikuti pembelajaran sesuai dengan minat dan bakatnya. Pembelajaran yang berlaku saat ini di sekolah dengan sistim paket kurang mengakomodasi keragaman yang terjadi pada peserta didik. Semua peserta didik menempuh sistem pembelajaran yang sama dalam menyelesaikan program belajarnya, sehingga peserta didik yang pandai akan terhambat dalam menyelesaikan program belajarnya dan siswa yang lemah merasa dipaksa untuk mengikuti peserta didik lainnya.

Untuk memberikan pelayanan pada peserta didik yang beragam dan untuk memenuhi ketentuan undang-undang di atas, maka pelaksanaan pendidikan di sekolah dapat menggunakan sistem Satuan kredit semester (SKS). Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 11 ayat (1) menyatakan “Beban belajar untuk SMP/MTs/SMPLB, atau bentuk lain yang sederajat dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester (SKS)”. Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan “Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB,SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada pendidikan formal kategori standar dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester”; Ayat (3) “Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester”.
a credit-butirt system is a system in which the total volume of study carried out by a student during the year (taught time plus independent study time) is given a numerical value. This value is then subdivided to correspond to the various subjects, unit or modules which the student take” (http://www.esmae ipp.pt/site/bolonh/Docs/Handbook for the Implementation and Use of Credit Butirts in Higher Music Education.pdf ).  Menurut definisi tersebut bahwa dalam pelaksanaan sistem kredit semester, isi seluruh pembelajaran yang dilaksanakan oleh seorang peserta didik selama setahun  (jam tatap muka ditambah jam belajar mandiri ) diberi bobot dalam bentuk angka. Bobot tersebut selanjutnya dibagi sesuai dengan mata pelajaran tertentu yang diikuti oleh peserta didik.

Sistem SKS bukan merupakan sistem pendidikan terbaik, namun hanya merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan oleh sekolah untuk mengakomodasi kebutuhan dan keragaman peserta didik. Disamping itu dengan sistem SKS perbandingan penilaian secara internasional secara mudah dapat dipahami.

Beberapa kelebihan sistem SKS adalah sebagai berikut :

a. Menyesuaikan dengan kecepatan belajar
peserta didik.

b. Mempersingkat waktu penyelesaian studi
bagi peserta didik yang berkemampuan dan berkemauan tinggi;

c.Peserta didik dapat mengembangkan potensi
diri sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat;

d.  Memudahkan guru melayani peserta didik
yang sesuai dengan kemampuan peserta didik;

e.  Meningkatkan kemandirian peserta didik
dalam belajar.

Kelemahan yang mungkin timbul dalam penyelenggaraan sistem SKS antara lain ialah:

a.  Banyaknya administrasi yang harus dikerjakan oleh sekolah;

b. Pengelolaan sumber daya pendidikan selalu berubah mengacu   pada jumlah mata pelajaran yang ditawarkan pada setiap semester;

c. Penyusunan jadwal pembelajaran yang agak lebih rumit;

d. Peserta didik masih perlu bimbingan dalam menentukan pilihan mata pelajaran.

(Herry Widyastono, 2008)

C. Karakteristik Penyelenggaraan Pendidikan Sistem Satuan Kredit   Semester (SKS)

Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006, SKS adalah suatu satuan atau bobot yang diberikan terhadap isi suatu mata pelajaran secara kuantitatif yang bukan hanya mencerminkan beban belajar peserta didik tetapi juga beban tugas mengajar guru yang dinyatakan dalam satuan kredit yang diselenggarakan dalam satuan waktu semester. Beban belajar satu SKS adalah beban belajar satu mata pelajaran meliputi satu jam pembelajaran tatap muka,  satu jam penugasan terstruktur  dan satu jam  kegiatan mandiri. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam  satuan kredit semester (sks). Berdasarkan hal tersebut  penerapan sistem SKS memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

D. Tujuan Penerapan SKS

Tujuan penerapan sistem SKS di SMP/MTs dan SMA/SMK
adalah :

a. Sekolah dapat melayani kebutuhan dan potensi peserta
didik yang   beragam dalam hal :

b.      Sekolah dapat memaksimalkan hasil belajar
peserta didik, karena mereka belajar sesuai dengan potensi, kebutuhan dan minatnya. Sekolah juga dapat mengembangkan kemandirian peserta didik dalam menentukan pilihan karier dan mata pelajaran yang dibutuhkan.

c.       Sekolah dapat melayani peserta didik yang
memiliki kecepatan belajar diatas rata-rata secara alamiah dan beragam. Sehingga tidak ada lagi kelas akselerasi yang selama ini terkesan dipaksa untuk diseragamkan.

d.      Peserta didik dapat dikurangi beban jumlah mata pelajaran yang selama ini terlalu banyak. Sehingga peserta didik dapat mencapai kompetensi mata pelajaran lebih luas dan mendalam.

(Nursyamsudin, 2008)

D. Beban Belajar dan Kegiatan Pembelajaran Sistem SKS

Dalam Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi disebutkan bahwa beban belajar dirumuskan
dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Dalam sistem paket kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada
masing-masing satuan pendidikan ditetapkan sebagai berikut:

a.       SD/MI/SDLB berlangsung selama 35
menit;

b.      SMP/MTs/SMPLB berlangsung selama
40 menit;

c.       SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK berlangsung selama
45 menit.

Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang
dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.

Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta
didik yang dirancang oleh pendidik untuk  mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta
didik.

Beban belajar  penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri
tidak terstruktur terdiri dari:

1.      Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada    SD/MI/SDLBmaksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

2.      Waktu untuk penugasan terstruktur
dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

3.      Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMA/MA/SMALB/SMK/MAK
maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

Dalam pembelajaran sistem SKS beban belajar 1 SKS terdiri dari 45 menit kegiatan
tatap muka, 45 menit kegitan penugasan terstruktur dan 45 menit kegiatan penugasan mandiri tidak terstruktur. Jika dalam sistem paket kegiatan penugasan terstruktur tidak termasuk dalam jadwal pelajaran, maka dalam sistem SKS penugasan terstruktur masuk dalam jadwal pelajaran.

Perbedaan kegiatan tatap muka dengan kegiatan penugasan terstruktur dalam sistem SKS adalah peran guru dalam pembelajaran, strategi dan metode yang digunakan. Dalam kegiatan tatap muka guru berperan sebagai instruktur, nara sumber dan fasilitator dengan pendekatan pembelajaran menggunakan ekspositori. Sementara dalam kegiatan penugasan terstruktur guru berperan sebagai tutor, fasilitator dan teman belajar. Strategi yang digunakan diskoveri inkuiri dan metoda yang digunakan diskusi kelompok, kolaboratif dan kooperatif.

Dalam sistem paket seorang siswa harus menyelesaikan program belajarnya dalam kurun waktu 3 tahun dan paling lama 5 tahun dengan jumlah mata pelajaran yang harus diikuti setiap semester antara 14 sampai 17 mata pelajaran. Pada sistem SKS
beban belajar yang harus diselesaikan minimal 102 SKS untuk SMP, yang terdiri dari mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Sedangkan untuk SMA beban belajar yang harus diselesaikan minimal 115 SKS, yang terdiri dari mata pelajaran dasar umum (MPDU), wajib program (MPWP) dan mata pelajaran pilihan
(MPP). Seluruh program dapat diselesaikan dalam waktu 5 sampai 10 semester.
Jumlah mata pelajaran yang diikuti setiap semester berkisar antara 6 sampai 10 mata pelajaran.

E. Langkah-langkah Penerapan Sistem SKS.

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penerapan sistem SKS adalah merekontruksi seluruh
SK/KD setiap mata pelajaran dari sistem paket kedalam sistem SKS.  Langkah tersebut diawali dengan mengklasifikasikan seluruh mata pelajaran menjadi mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan untuk SMP. Untuk SMA dikelompokkan menjadi mata pelajaran
dasar umum (MPDU), mata pelajaran wajib program (MPWP) dan mata pelajaran pilihan (MPP). Langkah berikutnya melakukan perhitungan untuk menetapkan jumlah SKS setiap mata pelajaran. Cara perhitungan untuk menetapkan jumlah SKS setiap mata pelajaran menurut Draft Panduan Penerapan Sistem SKS di SMP/SMA yang disusun Pusat Kurikulum Depdiknas adalah sebagai berikut :

a.       Beban Belajar 1 jam pelajaran di SMP :

Sistem Paket: TM + 50%(TT + KM)  =  40 menit + 20 menit =  60 menit

Sistem SKS: TM + TT + KM  = 40 menit + 40 menit + 40 menit = 120 menit

Contoh: Penyetaraan jam pelajaran dan sks di SMP:

12 jam pel sistem paket = {12 x 40 + (0.5 x 40 x

12)} : 120 = 720 : 120 =  6 sks

b.  Beban Belajar
1 jam pelajaran SMA :

Sistem Paket: TM + 60% (TT + KM) =  45 menit + 27 menit = 72 menit

Sistem SKS: TM + TT + KM  = 45 menit + 45 menit + 45 menit = 135 menit

Contoh Penyetaraan jam pelajaran dan sks di SMA:

12 jam pel = {12 x 45 + (0.6 x 45 x 12)} : 135 = 864 : 135 = 6,4 = 6 sks

Setelah menetapkan jumlah SKS pada setiap mata pelajaran, langkah berikutnya melakukan rekonstruksi pada SKL-SK/KD untuk setiap mata pelajaran disesuaikan dengan jumlah SKS. Rekonstruksi SKL-SK/KD dapat dilakukan dengan pendekatan hirearki, prosedural atau spiral.

Sebagai contoh : mata pelajaran PPKn di SMA pada sistem paket  jumlah jam pelajarannya 2 jam/semester dan wajib ada pada setiap semester.  Setelah dikonversikan pada sistem SKS menjadi 6 SKS dan dapat dilaksanakan dalam tiga semester. SKL-SK/Kdnya disusun dalam seri mata pelajaran, misalnya PPKn 1, PPKn 2 dan PPKn 3 atau Seri Civic, Hukum dan Politik.

F. Penilaian Pada Sistem SKS

Sistem penilaian pada SKS menggunakan acuan kriteria dengan katagori A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-dan D dengan rincian skala nilai :

Tabel Skala, Bobot dan Predikat Nilai.

Predikat Nilai

Skala

Bobot

A

95 – 100

4,0

A-

90 – 94

3,7

B+

85 – 89

3,3

B

80 – 84

3,0

B-

75 – 79

2,7

C+

70 – 74

2,3

C

60 – 69

2,0

D

< 60

0

Kreteria ketuntasan minimal (KKM) untuk setiap mata pelajaran adalah C dan batas terendah untuk menentukan kelulusan ditetapkan dengan bobot 2,5 pada indek prestasi kumulatif (IPK). Peserta didik yang belum memenuhi batas terendah kelulusan diberikan kesempatan untuk memperbaiki nilai-nilai pada pelajaran tertentu. Pada sistem SKS tidak dikenal kenaikan kelas.

G. Penutup.

Dalam Permendikanas nomor 22 tahun 2005 dijelaskan untuk sistem SKS akan diatur dalam ketentuan tersendiri. Saat ini panduan sistem SKS belum diterbitkan tinggal menunggu disahkan Meniknas. Tulisan ini diharapkan bisa membantu sekolah-sekolah, khususnya sekolah yang sedang mendapat Block Grant SSN/RSKM dan RSBI untuk mempersiapkan diri dalam menyusun perangkat sistem SKS.

About these ads

8 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum Wr.Wb.,

    Niatan ini sebenarnya bagus sekali bagi setiap siswa/i. Namun tinggal sosialiasi yang mungkin butuh waktu,serta adaptasi peserta didik dan pendidik itu sendiri terhadap sistem yang baru ini…

    Ya, semoga ini demi menjadi lebih baik lagi. amin

  2. bagaimana cara pengaturan jadwalnya pak

    • Untuk semester 1 sama dengan sistem paket, namun untuk semester berikutnya mungkin ada kelas yg tidak sama pulangnya

  3. sedang sipelajari

  4. Demi perkembangan peserta didik saya setuju dengan sistem SKS namun harus disosialisasikan secara mendalam agar dapat dipahami oleh sekolah dan masyarakat karena saat ini banyak sekolah SMP dan SMA tidak memahami secara benar tentang penerapan sistem SKS.

  5. Demi perkembangan peserta didik saya setuju dengan sistem SKS namun harus disosialisasikan secara mendalam agar dapat dipahami oleh sekolah dan masyarakat karena saat ini banyak sekolah SMP dan SMA tidak memahami secara benar tentang penerapan sistem SKS.

  6. Betul pak Wendie dan pak Antonius, kebetulan sekarang BNSP sudah mulai mensosialisasikannya dengan membuat dan menyebarkan pedoman penyelenggaraan SKS yg baru versi BNSP

  7. Saya sangat setuju pemberlakuan sistem SKS. ini akan membantu guru mengajar lebih semangat karena mendapatkan siswa-siswi yang lebih berminat dengan mata pelajaran yang diasuh. suasana kelas akan kondusif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.720 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: